Diposting oleh:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Pembiasaan Perilaku Keagamaan Dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa (Study di SMK Al-Madaniyah Tasikmalaya)

Oleh Yuni Hidayati, S.Pd., M.Si – Dosen Manajemen Pendidikan Islam

    1. Pendahuluan
    2. Latar Belakang Masalah

Undang-Undang  Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan definisi tentang pendidikan yaitu “ usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Fungsi Pendidikan Nasional yaitu untuk  mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, serta bertujuan untuk mengembangkan potensi diri peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1] Dengan kata lain agar siswa didik Indonesia mampu  mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendlian diri, memiliki kepribadin, kecerdaan dan akhlaq mulia. Kemudian keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2]

Namun demikian, pada operasionalnya tujuan pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada profesionalitas kerja sebagaimana tuntutan pasar kerja. Akibatnya karakter dan kekuatan spiritual mengalami reduksi dan pengeroposan.

Untuk konteks Tasikmalaya tahun 2005, Lestari Institute memberikan data bahwa selain persoalan orientasi, pendidikan di Tasikmalaya dihadapkan dengan persoalan drop out SD ke SMP yang sangat tinggi di 4  kecamatan dari 39 kecamatan salah satunya di kecamatan Salawu. Berdirinya  SMP almadaniyah tahun 2007 dan selanjutnya SMK almadaniyah tahun 2009 dengan kurikulum kepesantrenan dan Lingkungan Hidup menjadi alternative pendidikan pedesaan bagi masyarakat dalam hal ketersediaan lembaga pendidikan dan materi ajarnya.

Penerapan pembiasaan keagamaan melalui aurad isyraq dan hafalan surat pendek dari pukul 7.00 s.d pukul 7.30, shalat dluha sa’at istirahat dan shalat

[1]  Departemen Pendidikan Nasional RI, UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Cet I,(Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Sekretariat Jendral Departemen Pendidikan Nasional, 2003)  hal.8.

[2]    Usep Saepul Kamal, Sekolah Islam Kita, Harian Radar Tasikmalaya, 18 Maret 2013

Selengkapnya Klik disini

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter

Berikan komentar

Ikuti Kami

Kritik dan saran